Senin, 29 Februari 2016

Ayah- cerita tak ingin diberi ujung

Assalamualaikum, yah..

Ayah, siang ini aku duduk disalah satu bangku kampus. Tidak sendiri. Tapi bersama dengan yang lain, yang lain yang belum aku kenal. "Mengapa kau tak mengenalnya Nak?" Karena mereka bukan teman satu fakultasku. Sebuah pemikiran yang bodoh Yah... Aku tak mengenal karena mereka kurasa bukan temanku. Yah hari ini tentang teman,.. Masih sama dengan tema dulu-dulunya... TEMAN. Ayah, aku rasa aku tak memilikinya, aku teruse berpikir begitu. Aku bigung bagaimana harus berteman... Teman, itu apa dan harus bagaimana???

Tapi walaupun aku belum menemukan defenisinya, sepertinya pertemanan itu proses... Proses yang hanya dnegan berjalannya waktu aku baru mengetahui apa itu TEMAN. Aku menjalaninya, aku berteman, aku merasakan kehadiran teman, aku membutuhkan teman,... tapi Yah.... Saat aku ingin bercerita mereka tak ada, "Tak ada atau tak pernah kau anggap ada?" Entahlah, aku pun takut pada pikiranku sendiri, benarkah mereka tak ada. Atau aku terperangkap dalam kekosongan... Hingga aku merasa ada yang hilang dan menjauh, dan aku tak bisa menceritakan ceritaku pada mereka...

Yah... Aku harus bercerita pada siapa? Teman? Ayah? atau Tuhan?

Bagaimana aku paham harus bercerita pada siapa... Saat aku datang mereka seolah mengatakan semua kesalahanku,... Bukan aku tak mau tahun, tak mau merasakan apa yang mereka rasakan. Bukan aku tak pernah berbagi...

Ayah aku tahu ini tak sulit, tapi aku hanya terperangkap pada 'sulit'ku sendiri... tapi... Aku tak tahu Yah, sepertinya cerita ini tak akan aku beri ujung'sementara waktu....

Jumat, 11 Desember 2015

Laki-Laki Itu (1)

Menananam Cinta (Google.com)

Kamu Nakal….

Aku masih dikelas, saat dia masuk keruangan.
“Haiii…. Apa yang kau lakukan? Tidak ikut kelas hari ini?” tanyaku padanya sekedar basa-basi, mengisi kekosongan.
Dia tak menjawab dan mengabaikanku yang sedang membereskan tas untuk pulang. Hari ini kepalaku sedikit pusing, dan rasa mual itu kembali lagi… sebelum gejala lain timbul aku harap tak ada yang menyadari bahwa aku sedang tidak dalam kondisi fit. Kuharap dia pun yang satu-satunya memergokiku tengah mengambil obat dalam tas tak menghiraukan apa yang sedang aku lakukan.
“Aku duluan….” Sebaiknya kau bergabung dengan teman-teman lain…” Saranku padanya. Dia Fajar, anak pindahan yang menurut orang sekelilingku sangat nakal. Dia masuk kekelas ini setelah terakhir kalinya dipindahkan dari sekolah lamanya. Kami tidak tau mengapa dia pindah ketempat ini dan megapa sekolah ini menerimanya. Yang kutau orang tuanya bukan berasal dari kelas yang sama dengan lingkungan tempat kami tinggal, dia mungkin pangeran yang sakit hati atau mungkin yang tidak menemukan jati dirinya sehingga berasa seperti dikurung dalam menara Rapunzel.
HaHHahahha… Lucu sekali. Tapi hari ini sepertinya dia lain. Tidak biasanya dia berada dalam kelas, yang kulihat dia anak yang mudah bergaul walaupun terkenal nakal, tak seharusnya dia menyendiri dalam kelas bukan. Lepas dari seberapa nakal dia, sepertinya aku harus mengubah asumsiku, karena ada saat dia benar-benar diam dan menyendiri. Contohnya sekarang…. Atau jangan-jangan dia tak menganggapku ada dalam kelas ini… DASAR kurang ajar.
 Aku memang tidak dekat dengannya dan berusaha untuk tidak dekat. Karena tidak ada satu sama lain yang menarik bagiku dan baginya untuk menjadi teman. Yah sudahlah selamat tinggal, apapun yang kau pikirkan semoga baik-baik saja untukku.
“Hai ada yang kau tinggalkan…” serunya ketika aku hendak menutup ruang kelas…
Awalnya Tak Acuh (google.com)
“Apa?” tanyaku heran, rasanya aku tidak ada meninggalkan apapun…
“Ini…. Sebaiknya kau tidak meninggalkan prasangka pada orang lain dengan meninggalkan satu butir Paracetamol dosis 500 gram diruang kelas,… kau tidak berharap ada orang lain yang disangka kecanduan obat dikelas ini bukan?” dia menyerahkan butiran obat itu kedalam tanganku dengan seringai kenakalannya.
“Oh… Ya..” ucapku gugup.
“Seharusnya kalau ada masalah dengan tubuhmu, jangan sok sehat dan menasehati orang?” Ujarnya acuhkembali ketempat duduknya.
“Ya”…. Sejak kapan aku menasehatinya. Dasar anak nakal, Jika kau tak ingin ikut campur dengan urusanku seharusnya kau hanya menginjak obat itu. BODOH…. Aku pun menutup pintu dan melangkah pergi…
“Tunggu” dia berlari mengejarku yang sudah sampai dilapangan…
“Ada apa lagi, aku tidak meninggalkan prasangka lagi pada orang lain bukan?” tanya ku jengkel tanpa membalikkan badan untuk melihatnya.
Dia tak menjawab… malahan menempelkan tangannya pada dahiku yang berkeringat… Apa-apaan ini anak…
“Ada apa lagi, jangan ganggu urusanku, jika kau tak mau ikut kelas aku minta maaf telah menasehatimu, jika begitu….” Ujarku cepat.
Bukannya menjawab dia malah menarik tanganku kearah parkiran.
“Pakai ini….” Menyodorkan jaket padaku ketika kami sampai di parkiran sekolah…
“Apa?” tanyaku belum selesai dnegan keheranan yang dia ciptakan.
“Nona manisss, apakah kau tak mau memakainya atau kau tak tau cara memakainya?” Tanyanya dengan nada dan wajah yang dibuat sejengkel mungkin.
Aku hanya melototinya, tampa tau apa maksud dari semua ini.
“yah sudahlah, apapun jawabanmu kau tetap harus memakainya” dia memakaikan jaket itu padaku.
“OK selesai sekarang kau naik….” Ujarnya dari atas motornya…
“Aku bisa pulang sendiri, jika maksudmu adalah ingin mengantarku pulang?” ucapku mulai tersadar dengan apa yang dia lakukan.
“Sudah kukatakan jangan meninggalkan prasangka, aku tak mau masuk keurusanmu, tapi kau itu sama sekali tak mengenal dirimu sendiri, kau bahkan tak peduli dengan kondisi tubuhmu….Jadi jangan banyak komentar…” tandasnya menarikku naik keatas motornya.
“Maksudnmu…?” tanyaku lagi
“Oh nona bawel, mengapa kau terus bertanya? Sebentar lagi mulutmu itu akan kaku dan tidak bisa bicara jadi jangan habiskan energimu. OK, Jika kau takut jangan malu untuk berpegangan padaku, tutupnya dan membawa motor itu pergi….
Benar saja beberapa menit kemudian ketika angin bersalju semakin berembus aku tidak lagi merasakan bibirku, semuanya kelu.
“Kau tidak usah khawatir” suaranya melembut…
Aku tak mengerti apa yang dia katakan… Bagaimana aku tak cemas, ketika aku tak merasakan anggota tubuhku, BODOH…
“Jika kau takut sandarkan saja tubuhmu pada punggungku, jika kau ingin menangis, menangis saja, aku akan membawamu pulang…. Dimana alamatmu…?” tanyanya lebih lanjut…
Aku tak tau apakah dia bermaksud baik atau jahat,… aku mengetikkan alamatku diponsel dan memberikan padanya…. Dia meraih ponsel dan menarikku untuk berpegangan pada pinggangnya, wajahku terbenam dalam punngunggnya, kejedot, sakit.
“Kau bisa jatuh…” Aku tak tau akan secepat apa bagiian tubuhmu mulai membeku dan kau tak merasakan tubuhmu lagi, sekarang bersandarlah” ujarnya lagi.
Aku Tak Tahu Sudah Menggenggam Apa (Google.com)
Apa yang dia ketahui mengenai ini. Ini memang bukan yang pertama aku merasakan mual dan kepala ku sakit, biasanya hidungku akan mengeluarkan darah dan itu tidak mau berhenti, sebab itu aku berusaha untuk menghindarinya agar tidak dilihat oleh teman-temanku. Tapi kali ini lain,,,, Apa yang dia katakan benar, bibirku mulai membeku dan tidak bisa aku rasakan. Dan lagi tangan dan kakiku mulai kejang untuk beberapa saat… Apa yang sebenarnya dia ketahui tentang apa yang terjadi padaku, megapa dia mengatakan aku tak peduli dengan kondisi tubuhku. Saat aku semakin tak tau apa yang aku rasakan,air mataku jatuh… Rasanya aku mulai terisak… Tapi tak ada yang aku rasakan selain perasaan sedih… Karena akupun tak tau bagaimana lagi rasanya air mata itu menyentuh pipiku…
“Kita akan sampai, sebentar lagi bertahanlah”….
Rasanya dia sampai didepan apatemenku…. Dan aku tidak mengingat apa-apa lagi.

***

Ada benda hangat yang menempel dikepalaku,… dalam kosong aku kembali merenggut, dimana aku. Oh..,Apakah terlalu dingin hari ini, apakah seperti kemarin-kemarin dan darahku sudah habis dipompa keluar. Entah. Mataku ingin kubuka, tapi enggan melawan kekosongan nyata yang nantinya aku lihat, terlepas dimana aku berada, biasanya aku hanya sendiri.  Aku malas membuka mataku… Malas… Benar-benar malas..
Namun ada benda hangat lain yang menyentuhku. Aku pun dipaksa terbangun…
“Kau masih bisa bangun?”, tanyanya berat.
“Hhhhh… Thanks….” Ucapku. Ternyata dia yang mengopres sesuatu diatas keningku dan kini tangannya menyentuh kembali keningku yang terbalut kopres tersebut.
“Kau tak terlalu panas lagi…., Apakah aku bisa pulang….”
“Ohhhh” siapa juga yang menyuruhmu untuk menungguku, BODOH… Pulang saja sana…
“Bisa tidak? Kau masih mau ditemani?” ucapnya mendesak dengan ketus.
“Silahkan… dan terimahkasih telah menjaga dan mengantarkan pulang,” tandasnku sambil mengeluarkan senyum termanis yang bisa aku buat.
“Hhhhh… Jangan habiskan  energimu hanya untuk tersenyum padaku,….” Ucapnya cepat. Sontak wajahku memerah malu, KESAL padanya.
“Dan aku bukan pangeran yang terkurung dalam menara  Rapunzel” ucapnya lagi…
“Maksudmu?” ohhhhh maigat dari mana dia tahu… Apa dia membaca pikiranku tadi, atau aku yang mengigau tadi. OLalalla…..
“My CP tolong diganti. OK”… dia meraih hendel pintu yang hanya berjarak 3 Meter dari tempat tidurku. “Not See You” pisahnya.
“Saya pun tak senang bertemu denganmu lagi”….. Ucapku ketus saat dia berlalu. Setelah itu aku menghabiskan hari dengan cara biasa ketika aku tak lagi bisa melakukan banyak aktivitas, mengetik naskah novelku. Tentang dia.
***
Dia. Sendiri (Google.com)
Aku tak bertemu dengannya lagi sejak itu. Karena malamnya aku terbangun dalam ruang rumah sakit dengan warna utama biru dan bau obat-obatan yang menyegat. Sesaat hidungku mencium aroma parfum yang sedikit samar. Aku kembali muak.
“Na sudah sadar?” tanya suster yang menjagaku…
“Hmmmm… sudah berapa lama saya tak sadarkan diri?”… Agaknya cukup lama, hingga suster itu pun menyapaku dengan dekat.
“Satu minggu” ujarnya. “Oh ya, Abang Na tadi menelepon… Mau saya buatkan panggilan?” tanyanya.
“Tak usah”… jawabku… Aku meraih lengan suster tersebut dan mengatakan sesuatu yang kuharap mengantarkanku pada pertemuan dengannya atau terhindar dari abangku….
“Maaf tapi Anda tak boleh berhenti” sependek itu dia menjawab pintaku yang terakhir.
“Saya hanya ingin kembali…….” Ucapku lagi… dan dia berlalu dengan menutup rapat ruangku. Setelah itu banyak yang silih berganti datang kekamarku. Aku tak tahu apakah itu nyata dan hidup… sama saja bagiku…. Dan aku ingin pergi….. Sebelum itu aku ingin melihatnya.
***
Siang itu masih saja dingin…. Salju berguguran kembali…Aku melihatnya dari jendela rumah sakit. Yah, aku masih belum boleh keluar. Beberapa kali kucoba untuk keluar, namun mereka terlalu banyak disekelilingku… Juga aku masih tak mampu bergerak lebih dari aku menuju jendela, yang hanya berjarak 1 meter dari tempat tidurku… Terkadang pun aku masih harus dibantu, hanya untuk duduk dibangku depan jendela. Aku semakin putih dan pucat. Aku tak ingin jadi mayat hidup dan dia akan takut denganku… Oleh sebab itu akhir-akhir ini, aku memaksakan diriku, untuk menghabiskan jatah makananku yang tak ada lagi rasanya bagiku.
“Ohhhh dia… Jika tak karena kau menempelkan tangan hangatmu, aku tak akan terbangun, dan tak menunggumu disini… Jika pun kau tak melihatku mengambil obat itu, kau tak akan menarikku… dan sekarang aku seperti Rapunzel dalam gedung putih… Bedanya tak melihat kamu saja dari sini, tak ada pemandangan indah, tak ada alat lukis ajaib, aku tak punya dunia lain selain segi empat putih ini”….. Pikirku…..
“Lalu pun jika kau tak menyapaku hari itu, tentu aku akan diam dan hilang. Seberapa berat itu bagiku, kamu tak tahu… Jika tak ada kamu dalam ruangan itu, aku sudah pergi dulu-dulunya… Namun kamu, dengan 500gr Paracetamel… tahan untuk berada dalam kehidupan ini…. Apa aku harus menyesal…..” Katanya.
“Bukan seperti itu……. Aku tak baik untukmu….” Pikirku lagi.
“Seberapa baik yang kau harap, hingga aku bisa keluar dari menara Rapunzel itu….” Katanya.
“Itu bukan menara…. Ruang kosong yang kau ciptakan, aku hanya mengintipmu… dan kau keluar karena terganggu, bukan karenaku…. Aku hanya sebagian kecil…” Pikirku.
“Apapun itu yang kau sebut….. Itu karenamu Na… karenamu, meski aku berkata Not See You Again…” Katanya.
“Sekarang aku boleh pergi…..” tanyaku perlahan.
Meski Tak Ingin Meninggalkannya Sendiri (Google.com)
Dia mengenggam tanganku…. Sudah dari seminggu aku hanya bercakap seperti itu dengannya. Dia mengenggam tanganku, lalu duduk diam, dan menatapku. Dan mulai berbicara dari alam bawah sadarnya.
“Maaf… Aku masih tak bisa…”
Bukan maksudku pergi dengan meninggalkan prasangka padamu Fajar. Kuharap kau rela. Karena meski aku tak lagi bertemu denganmu dikali kehidupan lain. Aku masih ingin mengatakan,… Agar kau, Pangeran Rapunzel,  Menikmati keluar dari ruang kosong itu, tanpa ingin mencari sang pengintip…….. “See YOU Fajar”… Dari alam bawah sadarku… Aku menarik jemariku yang digengam lemah olehnya……… Selamat tidur Jar.

Princess Lee

Jika ini cinta, tuntunlah ia kejalanku…

Ha Na…. (1)

Google.com
Dia memanggilku seperti mengharapkan salju di musim semi. Seperti anak bayi yang baru terbangun dari tidur panjangnya. Jika ku terus berandai seperti apa dia memanggilku. Dia memanggilku seperti Ha Na, Matahari di tengah salju.
Jika dulu dia membutuhkan sekian menit  hanya untuk mengingat namaku, tapi sekarang di tiap detiknya, namaku selalu terukir di memori hatinya, katanya.
“Jika bisa memutar waktu, aku memilih tak melihatmu waktu itu, aku pilih hidup dalam kegelapan”
Jika dalam gelap mungkin aku lebih sanggup melewati hariku dengannya, tak melihat raut wajahnya. Jika waktu yang kuhabiskan selalu memintaku bersamanya, apa yang harus kulakukan pada jemari lemah yang kini menggemgam tanganku dengan erat. Yang dilihatnya sekarang hanya wajahku, walau kami kini tengah melewati hamparan ilalang.
Kami lewatkan waktu dalam diam, tangannya kembali menggenggam erat jemariku.
“Cinta telah menuntunku kejalanmu” katanya tegas di temaram senja yang meragu.
“Ya”. Hanya itu yang mampu ku katakan.

Jika kau meminta kejujuran, kuharap kau tak terlahir dengan mata indahmu itu. Hingga tak ada langkah yang menuntun kita bertemu dalam sudut cerita senja ini.