 |
| Menananam Cinta (Google.com) |
Kamu Nakal….
Aku masih
dikelas, saat dia masuk keruangan.
“Haiii….
Apa yang kau lakukan? Tidak ikut kelas hari ini?” tanyaku padanya sekedar
basa-basi, mengisi kekosongan.
Dia tak
menjawab dan mengabaikanku yang sedang membereskan tas untuk pulang. Hari ini
kepalaku sedikit pusing, dan rasa mual itu kembali lagi… sebelum gejala lain
timbul aku harap tak ada yang menyadari bahwa aku sedang tidak dalam kondisi
fit. Kuharap dia pun yang satu-satunya memergokiku tengah mengambil obat dalam
tas tak menghiraukan apa yang sedang aku lakukan.
“Aku
duluan….” Sebaiknya kau bergabung dengan teman-teman lain…” Saranku padanya.
Dia Fajar, anak pindahan yang menurut orang sekelilingku sangat nakal. Dia
masuk kekelas ini setelah terakhir kalinya dipindahkan dari sekolah lamanya.
Kami tidak tau mengapa dia pindah ketempat ini dan megapa sekolah ini
menerimanya. Yang kutau orang tuanya bukan berasal dari kelas yang sama dengan
lingkungan tempat kami tinggal, dia mungkin pangeran yang sakit hati atau
mungkin yang tidak menemukan jati dirinya sehingga berasa seperti dikurung
dalam menara Rapunzel.
HaHHahahha…
Lucu sekali. Tapi hari ini sepertinya dia lain. Tidak biasanya dia berada dalam
kelas, yang kulihat dia anak yang mudah bergaul walaupun terkenal nakal, tak
seharusnya dia menyendiri dalam kelas bukan. Lepas dari seberapa nakal dia,
sepertinya aku harus mengubah asumsiku, karena ada saat dia benar-benar diam
dan menyendiri. Contohnya sekarang…. Atau jangan-jangan dia tak menganggapku
ada dalam kelas ini… DASAR kurang ajar.
Aku memang tidak dekat dengannya dan berusaha
untuk tidak dekat. Karena tidak ada satu sama lain yang menarik bagiku dan
baginya untuk menjadi teman. Yah sudahlah selamat tinggal, apapun yang kau
pikirkan semoga baik-baik saja untukku.
“Hai ada
yang kau tinggalkan…” serunya ketika aku hendak menutup ruang kelas…
 |
| Awalnya Tak Acuh (google.com) |
“Apa?”
tanyaku heran, rasanya aku tidak ada meninggalkan apapun…
“Ini….
Sebaiknya kau tidak meninggalkan prasangka pada orang lain dengan meninggalkan
satu butir Paracetamol dosis 500 gram diruang kelas,… kau tidak berharap ada
orang lain yang disangka kecanduan obat dikelas ini bukan?” dia menyerahkan
butiran obat itu kedalam tanganku dengan seringai kenakalannya.
“Oh… Ya..”
ucapku gugup.
“Seharusnya
kalau ada masalah dengan tubuhmu, jangan sok sehat dan menasehati orang?”
Ujarnya acuhkembali ketempat duduknya.
“Ya”….
Sejak kapan aku menasehatinya. Dasar anak nakal, Jika kau tak ingin ikut campur
dengan urusanku seharusnya kau hanya menginjak obat itu. BODOH…. Aku pun
menutup pintu dan melangkah pergi…
“Tunggu”
dia berlari mengejarku yang sudah sampai dilapangan…
“Ada apa
lagi, aku tidak meninggalkan prasangka lagi pada orang lain bukan?” tanya ku
jengkel tanpa membalikkan badan untuk melihatnya.
Dia tak
menjawab… malahan menempelkan tangannya pada dahiku yang berkeringat… Apa-apaan
ini anak…
“Ada apa
lagi, jangan ganggu urusanku, jika kau tak mau ikut kelas aku minta maaf telah
menasehatimu, jika begitu….” Ujarku cepat.
Bukannya
menjawab dia malah menarik tanganku kearah parkiran.
“Pakai
ini….” Menyodorkan jaket padaku ketika kami sampai di parkiran sekolah…
“Apa?”
tanyaku belum selesai dnegan keheranan yang dia ciptakan.
“Nona
manisss, apakah kau tak mau memakainya atau kau tak tau cara memakainya?”
Tanyanya dengan nada dan wajah yang dibuat sejengkel mungkin.
Aku hanya
melototinya, tampa tau apa maksud dari semua ini.
“yah
sudahlah, apapun jawabanmu kau tetap harus memakainya” dia memakaikan jaket itu
padaku.
“OK
selesai sekarang kau naik….” Ujarnya dari atas motornya…
“Aku bisa
pulang sendiri, jika maksudmu adalah ingin mengantarku pulang?” ucapku mulai
tersadar dengan apa yang dia lakukan.
“Sudah
kukatakan jangan meninggalkan prasangka, aku tak mau masuk keurusanmu, tapi kau
itu sama sekali tak mengenal dirimu sendiri, kau bahkan tak peduli dengan
kondisi tubuhmu….Jadi jangan banyak komentar…” tandasnya menarikku naik keatas
motornya.
“Maksudnmu…?”
tanyaku lagi
“Oh nona
bawel, mengapa kau terus bertanya? Sebentar lagi mulutmu itu akan kaku dan
tidak bisa bicara jadi jangan habiskan energimu. OK, Jika kau takut jangan malu
untuk berpegangan padaku, tutupnya dan membawa motor itu pergi….
Benar saja
beberapa menit kemudian ketika angin bersalju semakin berembus aku tidak lagi
merasakan bibirku, semuanya kelu.
“Kau tidak
usah khawatir” suaranya melembut…
Aku tak
mengerti apa yang dia katakan… Bagaimana aku tak cemas, ketika aku tak
merasakan anggota tubuhku, BODOH…
“Jika kau
takut sandarkan saja tubuhmu pada punggungku, jika kau ingin menangis, menangis
saja, aku akan membawamu pulang…. Dimana alamatmu…?” tanyanya lebih lanjut…
Aku tak
tau apakah dia bermaksud baik atau jahat,… aku mengetikkan alamatku diponsel
dan memberikan padanya…. Dia meraih ponsel dan menarikku untuk berpegangan pada
pinggangnya, wajahku terbenam dalam punngunggnya, kejedot, sakit.
“Kau bisa
jatuh…” Aku tak tau akan secepat apa bagiian tubuhmu mulai membeku dan kau tak
merasakan tubuhmu lagi, sekarang bersandarlah” ujarnya lagi.
 |
| Aku Tak Tahu Sudah Menggenggam Apa (Google.com) |
Apa yang
dia ketahui mengenai ini. Ini memang bukan yang pertama aku merasakan mual dan
kepala ku sakit, biasanya hidungku akan mengeluarkan darah dan itu tidak mau
berhenti, sebab itu aku berusaha untuk menghindarinya agar tidak dilihat oleh
teman-temanku. Tapi kali ini lain,,,, Apa yang dia katakan benar, bibirku mulai
membeku dan tidak bisa aku rasakan. Dan lagi tangan dan kakiku mulai kejang
untuk beberapa saat… Apa yang sebenarnya dia ketahui tentang apa yang terjadi
padaku, megapa dia mengatakan aku tak peduli dengan kondisi tubuhku. Saat aku
semakin tak tau apa yang aku rasakan,air mataku jatuh… Rasanya aku mulai
terisak… Tapi tak ada yang aku rasakan selain perasaan sedih… Karena akupun tak
tau bagaimana lagi rasanya air mata itu menyentuh pipiku…
“Kita akan
sampai, sebentar lagi bertahanlah”….
Rasanya
dia sampai didepan apatemenku…. Dan aku tidak mengingat apa-apa lagi.
***
Ada benda
hangat yang menempel dikepalaku,… dalam kosong aku kembali merenggut, dimana
aku. Oh..,Apakah terlalu dingin hari ini, apakah seperti kemarin-kemarin dan
darahku sudah habis dipompa keluar. Entah. Mataku ingin kubuka, tapi enggan
melawan kekosongan nyata yang nantinya aku lihat, terlepas dimana aku berada,
biasanya aku hanya sendiri. Aku malas
membuka mataku… Malas… Benar-benar malas..
Namun ada
benda hangat lain yang menyentuhku. Aku pun dipaksa terbangun…
“Kau masih
bisa bangun?”, tanyanya berat.
“Hhhhh…
Thanks….” Ucapku. Ternyata dia yang mengopres sesuatu diatas keningku dan kini
tangannya menyentuh kembali keningku yang terbalut kopres tersebut.
“Kau tak
terlalu panas lagi…., Apakah aku bisa pulang….”
“Ohhhh”
siapa juga yang menyuruhmu untuk menungguku, BODOH… Pulang saja sana…
“Bisa
tidak? Kau masih mau ditemani?” ucapnya mendesak dengan ketus.
“Silahkan…
dan terimahkasih telah menjaga dan mengantarkan pulang,” tandasnku sambil
mengeluarkan senyum termanis yang bisa aku buat.
“Hhhhh…
Jangan habiskan energimu hanya untuk
tersenyum padaku,….” Ucapnya cepat. Sontak wajahku memerah malu, KESAL padanya.
“Dan aku
bukan pangeran yang terkurung dalam menara
Rapunzel” ucapnya lagi…
“Maksudmu?”
ohhhhh maigat dari mana dia tahu… Apa dia membaca pikiranku tadi, atau aku yang
mengigau tadi. OLalalla…..
“My CP
tolong diganti. OK”… dia meraih hendel pintu yang hanya berjarak 3 Meter dari
tempat tidurku. “Not See You” pisahnya.
“Saya pun
tak senang bertemu denganmu lagi”….. Ucapku ketus saat dia berlalu. Setelah itu
aku menghabiskan hari dengan cara biasa ketika aku tak lagi bisa melakukan
banyak aktivitas, mengetik naskah novelku. Tentang dia.
***
 |
| Dia. Sendiri (Google.com) |
Aku tak
bertemu dengannya lagi sejak itu. Karena malamnya aku terbangun dalam ruang
rumah sakit dengan warna utama biru dan bau obat-obatan yang menyegat. Sesaat
hidungku mencium aroma parfum yang sedikit samar. Aku kembali muak.
“Na sudah
sadar?” tanya suster yang menjagaku…
“Hmmmm…
sudah berapa lama saya tak sadarkan diri?”… Agaknya cukup lama, hingga suster
itu pun menyapaku dengan dekat.
“Satu minggu”
ujarnya. “Oh ya, Abang Na tadi menelepon… Mau saya buatkan panggilan?”
tanyanya.
“Tak usah”…
jawabku… Aku meraih lengan suster tersebut dan mengatakan sesuatu yang kuharap
mengantarkanku pada pertemuan dengannya atau terhindar dari abangku….
“Maaf tapi
Anda tak boleh berhenti” sependek itu dia menjawab pintaku yang terakhir.
“Saya
hanya ingin kembali…….” Ucapku lagi… dan dia berlalu dengan menutup rapat
ruangku. Setelah itu banyak yang silih berganti datang kekamarku. Aku tak tahu
apakah itu nyata dan hidup… sama saja bagiku…. Dan aku ingin pergi….. Sebelum
itu aku ingin melihatnya.
***
Siang itu
masih saja dingin…. Salju berguguran kembali…Aku melihatnya dari jendela rumah
sakit. Yah, aku masih belum boleh keluar. Beberapa kali kucoba untuk keluar,
namun mereka terlalu banyak disekelilingku… Juga aku masih tak mampu bergerak
lebih dari aku menuju jendela, yang hanya berjarak 1 meter dari tempat tidurku…
Terkadang pun aku masih harus dibantu, hanya untuk duduk dibangku depan
jendela. Aku semakin putih dan pucat. Aku tak ingin jadi mayat hidup dan dia
akan takut denganku… Oleh sebab itu akhir-akhir ini, aku memaksakan diriku,
untuk menghabiskan jatah makananku yang tak ada lagi rasanya bagiku.
“Ohhhh
dia… Jika tak karena kau menempelkan tangan hangatmu, aku tak akan terbangun, dan
tak menunggumu disini… Jika pun kau tak melihatku mengambil obat itu, kau tak
akan menarikku… dan sekarang aku seperti Rapunzel dalam gedung putih… Bedanya
tak melihat kamu saja dari sini, tak ada pemandangan indah, tak ada alat lukis
ajaib, aku tak punya dunia lain selain segi empat putih ini”….. Pikirku…..
“Lalu pun
jika kau tak menyapaku hari itu, tentu aku akan diam dan hilang. Seberapa berat
itu bagiku, kamu tak tahu… Jika tak ada kamu dalam ruangan itu, aku sudah pergi
dulu-dulunya… Namun kamu, dengan 500gr Paracetamel… tahan untuk berada dalam
kehidupan ini…. Apa aku harus menyesal…..” Katanya.
“Bukan
seperti itu……. Aku tak baik untukmu….” Pikirku lagi.
“Seberapa
baik yang kau harap, hingga aku bisa keluar dari menara Rapunzel itu….”
Katanya.
“Itu bukan
menara…. Ruang kosong yang kau ciptakan, aku hanya mengintipmu… dan kau keluar
karena terganggu, bukan karenaku…. Aku hanya sebagian kecil…” Pikirku.
“Apapun
itu yang kau sebut….. Itu karenamu Na… karenamu, meski aku berkata Not See You
Again…” Katanya.
“Sekarang
aku boleh pergi…..” tanyaku perlahan.
 |
| Meski Tak Ingin Meninggalkannya Sendiri (Google.com) |
Dia
mengenggam tanganku…. Sudah dari seminggu aku hanya bercakap seperti itu
dengannya. Dia mengenggam tanganku, lalu duduk diam, dan menatapku. Dan mulai
berbicara dari alam bawah sadarnya.
“Maaf… Aku
masih tak bisa…”
Bukan
maksudku pergi dengan meninggalkan prasangka padamu Fajar. Kuharap kau rela.
Karena meski aku tak lagi bertemu denganmu dikali kehidupan lain. Aku masih
ingin mengatakan,… Agar kau, Pangeran Rapunzel,
Menikmati keluar dari ruang kosong itu, tanpa ingin mencari sang pengintip……..
“See YOU Fajar”… Dari alam bawah sadarku… Aku menarik jemariku yang digengam
lemah olehnya……… Selamat tidur Jar.